Hamba taruh harap buih pasir dalam kerang,
bawa dengan sungguh menuju biru lautan dalam.
Letakkan pasrah kerang yang kini sudah memaku perasaan,
Relakan tiada jumpa harapkan mutiara yang bersiang terang.
.
Jadilah hamba pujangga gerhana dan purnama berlalu di daratan,
Bayang gundah bukan lengang melintas.
Keras meyakinkan alam yang berperan,
Akhirkan kening tunduk harap pada Tuhan.
.
Hendak rindu tuntun telapak melangkah,
Hingga angin bawa sampai pada titik serupa.
Pandang yang berbatas tenangkan guncang,
Hamba kepalang meski ia masih sebongkah kerang.
.
Fajar terik senja gulita sempat tiada makna,
Bayang meski bayang sudah sirnakan lelah langkah.
Raga menerus sama melakukannya,
Biarpun bumi bergeser pada orbitnya putar akan porosnya.
.
Masa tertanda akan memang waktunya,
Tak tampak kerang lagi hamba menatap.
Retaklah ia tumbuh lebihkan mutiara biru binar,
Hening hamba tetap enggan akan eloknya.
.
Jiwa menekan papaskan insan dalam dunia,
Luluh raga paksa hempas mengantar akan saatnya.
Tlah tiba sama seperti saat taruh buih ulur lengan kembali,
Enggan terduga kerang mutiara hamba tiada.
.
Terombangkah dalam hempasan yang menerpa.
Atau mungkin mampu melangkah telah ia.
Menentukan garisan yang entah berjuluk takdir.
Hindari petaka yang tidak tahu terkiranya.
.
Pulanglah hamba kembali bersama dengan hampa.
Sepi layaknya menjadi kawan yang setia kapan saja.
Suka dan Duka sudah tidak menjadi pembeda.
.
.
.
Kini duduklah hamba menanti debur ombak antarkan jawaban atas pertanyaan akan Bumi dan Langit.



Copyright © Mishars Template Design by RzaaL 1306